Thursday, December 22, 2005

Tak Sekedar Hari Ibu

Secara umum, hari 22 Desember diperingati sebagai hari Ibu. Tapi bagiku, hari ini juga aku peringati sebagai hari ulang tahun Slemania. Sebuah kelompok suporter tim PSS Sleman yang menjadi tempat Aku beraktivitas selama hampir lima tahun terakhir ini.

Awalnya sepele saja aku bergabung dengan kelompok ini, yaitu saat di perjalanan ketemu dengan konvoi Aremania (suporter Arema Malang) yang akan melihat pertandingan Arema vs PSS Sleman (27 Januari 2001). Merasa tertarik, bergegas aku mengikuti konvoi ribuan suporter (sekitar 10.000an)...menuju stadion. Eh, Stadion sudah penuh, bahkan banyak orang yang memegang tiket tapi tidak bisa masuk.

Aku beruntung bisa masuk ke stadion hari itu, dan terperangah melihat aksi ribuan Aremania di dalam stadion. Koor lagunya masih kuingat sampai sekarang, begini... Disini Aremania / Kami slalu dukung Arema / Dimanapun berada / Kami selalu ada / Karna kami Aremania... Gilee bener. Aku bisa merasakan pemain Arema seperti mendapat suntikan moral, dan menjadi percaya diri. Wajah mereka tenang dan optimis, karena ada 10 ribu orang pendukungnya di tempat itu.

Sayang, hari itu pertandingan cuma berlangsung sekitar 6 menit. Penonton yang tidak bisa masuk melempari penonton yang ada di dalam. Suasana jadi kacau, suporter kedua tim masuk ke lapangan mengindari lemparan. Untungnya tidak ada yang berantem, dan malah akur akur saja. Tapi pertandingan tetap tidak bisa dilanjutkan.

Sejak saat itulah, tribun stadion menjadi sangat akrab bagiku. Sebelumnya aku hanya sesekali melihat pertandingan sepakbola secara langsung. Tapi sejak itu aku menjadi bagian dari sebuah kelompok suporter yang menurutku punya peran dalam sebuah pertandingan... tidak sekedar datang, duduk, dan makan kacang.

Akhirnya, nama Slemania menjadi identitas personal yang melekat padaku. Secara personal, aku bisa memperkenalkan diri... "Aku adalah Slemania", demikian juga ketika aku sedang bersama teman-temanku. Aku datang ke Jakarta, Cilegon, Bandung, Denpasar, Sidoarjo, Semarang, Kediri, Lamongan, Malang, Gresik, Solo ... hanya untuk menonton pertandingan sepakbola. Orang-orang terdekatku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Tak cuma itu, aku akhirnya terlibat dalam segala aktivitas organisasi di kelompok tersebut. Menjadi admin web, sekretaris organisasi, ketua rombongan tour, menerbitkan bultin, merancang slogan, hingga menciptakan lagu suporter. Dari kegiatanku aku bisa memiliki banyak teman dari beragam latar belakang, mulai dari anak tokoh nasional, preman, hingga residivis. Komplet.

Saat ini, aku memang mengurangi aktivitasku di organisasi Slemania. Memberi kesempatan pada orang lain untuk menjadi pengurus, dan melakukan banyak hal pribadi yang aku tinggalkan selama ini (termasuk urusan kuliah... kemarin). Tapi, jiwaku tetap seperti seorang suporter, sehingga menjadi kewajiban untuk tetap berada di tribun saat timku bermain.
Terkadang aku berpikir .... Sebagai seorang suporter, sepakbola seperti agama, dan menonton sepakbola seperti ibadah. Sehingga jika aku tidak menonton pertandingan, rasanya seperti berdosa. Hiks, segitunya...

Selamat Ulang Tahun Slemaniaku...Selamat Hari Ibu juga

Tuesday, December 20, 2005

6 Jutaan Untuk Gelar Sarjana di UGM

Terinspirasi dari Blognya Hormon... aku jadi pingin menghitung secara kasar biaya yang kubayarkan kepada UGM selama 9 tahun (1996-2005) aku kuliah di kampus tercinta tersebut.

SPP selama 7 tahun pertama
Rp.225.000 x 14 semester = Rp. 3.150.000

SPP selama 2 tahun perpanjangan masa studi
Rp.500.000 x 4 semester = Rp. 2.000.000

Biaya untuk Penataran P4, Ospek, Jas, dll
sekitar Rp.350.000

Biaya untuk wisuda, dan KKN
sekitar Rp.800.000

Jadi total Rp. 6.300.000,-

Jumlah tersebut jelas sangat jauh jika dibandingkan dengan biaya yang harus dibayar seorang mahasiswa baru UGM saat ini.

Selamat Ulang Tahun UGM...